Pertanyaan Terkait Keimanan Kepada Allah

Pertanyaan Terkait Keimanan Kepada Allah

Kebanyakan pertanyaan yang mengganjal pikiran anak pada usia dini adalah pertanyaan-pertanyaan yang terkait Allah subhanahu wa taala. Di sini kita akan menyebutkan pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh anak kepada kedua orang tuanya.

Pertanyaan Siapa Allah?

Hendaknya kita tidak menunggu anak bertanya tentang Allah, akan tetapi hendaknya kita yang selalu memulai pembicaraan tentang Allah subhanahu wa taala pada setiap kesempatan. Jawaban yang benar untuk pertanyaan anak terkait Allah subhanahu wa taala dan sifat-sifatnya akan memberikan pondasi keyakinan tauhid dan keimanan kepada Allah pada akal dan hati sang anak. Oleh sebab itu metode terbaik adalah dengan memalingkan pikiran anak dari memikirkan zat Allah subhanahu wa taala kepada nikmat-nikmat dan keajaiban-keajaiban ciptaan-Nya. Itu semua menjadi bukti keberadaan Allah. Langit, bintang-bintang, matahari, bulan, lautan, pepohonan dan lain sebagainya adalah contohnya. Hendaknya anak diingatkan tentang karunia Allah pada dirinya berupa penciptaan dirinya dan anggota tubuhnya. Mulai dari kedua mata, kedua telinga, mulut, lidah kedua tangan kedua kaki, dan semua tubuhnya. Hendaknya disampaikan kepada anak bahwa langit diciptakan oleh Allah demikian pula bumi serta pepohonan. Semuanya diciptakan oleh Allah. Begitu seterusnya hingga anak terbiasa dengan kalimat-kalimat tersebut. Ketika ia bertanya kepada kita, “Siapakah Allah itu?” hendaknya dijawab dengan sederhana bahwasanya Allah adalah zat yang menciptakan segala sesuatu yang ada disekitar kita. Hendaknya kita memberikan banyak contoh untuk menjelaskan hal tersebut.

Apabila kita perlihatkan kepada anak beragam makhluk yang ada di langit serta dijelaskan padanya tentang aturan yang begitu tertata dengan sangat baik , kita hendaknya mengatakan kepada anak: “Apakah kamu melihat keteraturan yang begitu baik ini?” Sungguh yang menciptakan keteraturan tersebut adalah Allah subhanahu wa taala. Pada saat itu anak akan merasakan keberadaan Rabbnya melalui ilmu dan bukti-bukti. Hendaknya disampaikan bahwasanya Allah subhanahu wa taala yang menciptakan segala sesuatu. Tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dia adalah zat yang maha penyayang, maha memberi rezeki, dan maha mulia. Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang semuanya baik dan indah. Oleh sebab itu, Allah satu-satunya yang paling berhak untuk diibadahi. Tidak ada sekutu baginya. Perlu dijelaskan bahwa Allah subhanahu wa taala mencintai anak-anak dan memerintahkan kepada orang dewasa untuk memperhatikan, berbuat baik, dan berusaha mengucurkan kebaikan bagi anak-anak dan seluruh manusia. Allah akan menghisab kita atas amalan-amalan kita yang baik dan buruk serta memberikan pahala atau hukuman. Allah yang membalas orang yang berbuat baik karena perbuatan baiknya dan membalas orang yang berbuat jahat karena perbuatan jahatnya. Termasuk hal yang bermanfaat adalah mengajarkan surah-surah pendek. Teknik tersebut berisi sebaik-baiknya jawaban tentang zat Allah dan sifat-sifatnya. Dialah Allah yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan dia. Kita juga dapat bertanyan kepada anak mseperti contoh berikut. “Siapa yang memberikan kamu pakaian yang bagus ini?” Dia kan menjawab, “Ayah.” “Siapa yang mengantarkan kamu ke sekolah?” Dia kan menjawab, “Ayah.” “Kalau kamu sakit siapa yang merawatmu dan mengantarkan kamu ke dokter?” Dia akan menjawab, “Ayah.” “Siapa yang membawamu rekreasi jika tiba masa liburan?” Dia akan menjawab, “Ayah.” “Jadi ayahmu adalah orang yang mengurusi segala keperluanmu?” Dia akan menjawab, “Iya.” “Demikian pula Allah. Dia-lah yang mengurusi kita semua. Allah sang pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu yang kamu lihat di sekitarmu adalah ciptaan Allah. Matahari, bulan, awan, lautan, gunung, penciptaan manusia, hewan, burung, penciptaan malaikat dan jin aadalah ciptaan Allah. Allah adalah pencipta segala makhluk. Allah yang maha mulia, maha penyayang yang mengurusi kita dan memperhatikan kita. Allah mencintai kita dan selalu mendatangkan bagi kita kebaikan.”

Pertanyaan Apakah Bentuk Allah Seperti Manusia?

“Tidak. Allah tidak seperti kita. Allah tidak semisal dengan apa pun. Dia yang menciptakan kita dan semua manusia. Dia yang menciptakan pepohonan, sungai, laut dan segala sesuatu di dunia ini. Dia-lah sumber kekuatan. Jika menghendaki sesuatu maka ia berkata, “Jadilah!” maka jadilah yang Dia ingnkan. Allah berbeda dengan manusia. Manusia tidak bisa menciptakan manusia, namun Allah bisa melakukannya dan melakukan apa saja yang Dia inginkan. Perbedaan yang lain ialah tidak ada yang bisa melihat Allah di kedidupan dunia ini. Maka tidak ada yang bisa menjelaskan bentuk-Nya. Kita pun tidak bisa melihat Allah dengan segala cahaya-Nya dan keindahan-Nya. Kemampuan kita terbatas.”

Setelah itu kita minta kepada anak untuk memandang matahari secara langsung tanpa mengedipkan mata. Lalu kita tanyakan kepadanya, “Apakah kamu bisa melihat matahari itu secara terus-menerus?”
Dia pasti menjawab, “Tidak.”
Katakan, “Demikian juga Allah, sayangku.. Cahaya Allah tidak sanggup kita pandang namun ketika kita masuk surga, kita akan melihat Allah dengan izin-Nya.
Saat ini, mungkin sang anak akan protes dan bertanya, “Bagaimana bisa Allah tidak semisal dengan apapun?”
Pada saat ini, hendaknya kita menjelaskan dengan penuh ketenangan. “Walaupun akal kita semakin maju dan berkembang, akal tersebut tetaplah akal manusia yang punya keterbatasan. Akal kita bisa mengetahui apa saja sesuai kehendak Allah. Kita tidak mengetahui selain itu. Mustahil bagi kita untuk mempelajari segala sesuatu karena kita adalah manusia.”

Bisa juga kita katakan, “Kalau Allah itu manusia seperti kita, maka Allah pasti sakit, makan, minum dan mati seperti kita akan tetapi Allah tidak pernah sakit, makan, minum dan mati. Allah senantiasa ada. Dialah pencipta langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di alam ini. Allah tidak semisal dengan apapun.”
Bisa pula kita tanyakan kepada anak, “Apakah kita sebagai manusia jika menginginkan sesuatu kemudian kita katakan, “Jadilah!” maka akan terjadi?”
Anak akan menjawab, “Tidak”. Dengan begini kita bisa mencapai kesimpulan bersama dengan anak kita bahwa Allah bukanlah manusia seperti kita. Dia adalah zat yang maha pencipta.
Kita bisa katakan kepada anak, “Pendengaran kita terbatas. Kita hanya bisa mendengar suara dari jarak tertentu. Jika kita bisa mendengar semua hal pasti kita akan lelah. Pandangan kita juga terbatas. Kita hanya bisa memandang hal-hal yang berada pada jarak tertentu. Kita jiga tidak bisa melihat apa saja yang ada di balik dinding. Akal kita juga seperti itu. Akal kita terbatas. Akal kita tidak mampu memahami segala hal. Semenjak Allah menciptakan manusia sampai hari ini, pengetahuan yang tidak kita ketahui lebih bnayka dibandingkan paa yang kita ketahui. Misalnya ruh yang ada pada diri manusia belum kita ketahui hakikatnya padahal ruh tersebut dekat dengan kita. Jika demikian pengetahuan kita terhadap sesuaitu yang ada pada diri kita, bagaimana lagi dengan hal yang ada di luar diri kita? Oleh sebab itu, akal manusia selama masih terbatas maka akal itu tidak mampu mengetahui zat Allah. Di sisi lain, informasi tentang Allah tidak bisa dicapai dengan akal atau khayalan, namun hanya bisa dicapai dengan wahyu syariat semata. Alquran sudah menutup masalah ini dengan firman-Nya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Q.S Al-Syura :11).
Ini semua menunjukkan betapa agungnya Allah yang kita cintai, harapkan, dan takuti. Keagungan-Nya nampak ketia Dia menjadikan kesempatan memandang-Nya hanya di surga-Nya sebagai kenikmatan terbesar di surga kelak secara mutlak.

Pertanyaan Siapa Yang Menciptakan Allah?

“Kalau ada yang mencitakan Allah, kamu pasti akan bertanya juga, siapa yang mecinptakannya, bukan begitu? Jadi, kita harus tahu bahwa sifat sang pencipta itu adalah Dia tidak diciptakan dan Dia-lah pencipta segala makhluk. Kalau sekiranya Dia juga makhluk, maka kita tidak menyembah-Nya atau mengikuti aturan serta perintah-Nya. Maka pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?” tidak benar dan tidak ada maknyanya. Ini seperti jika kita bertanya kepada seseorang, “Berapa panjang garis keempat dari segi tiga?” Ini tidak ada jawabannya, karena segitiga hanya memiliki tiga garis. Kesalahan pada pertanyaan, “Siapa yang menciptakan Allah?” adalah bahwa kata “Menciptakan” dan “Allah” tidak bisa digandengankan (jika Allah sebagai objeknya) karena tuhan itu tidak diciptakan. Penciptaan terjadi pada makhluk dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menciptakan Allah. Jika bisa maka Allah juga makluk. Allah ada tanpa ada permulaan dan penghabisan.”

“Taruhlah jika ada sesuatu yang menciptakan Allah, maka tersisa pertanyaan, siapa yang menciptakan pencipta Allah?! Lalu, siapa yang menciptakan pencipta pencipta Allah??! Demikian pertanyaan itu sampai tidak ada akhirnya dan itu adalah hal yang mustahil.” Untuk menjelaskan hal ini, mari kita lihat perumpamaan berikut. “Ada seorang tentara yang memiliki peluru. Tentara ini ingin menembakkan peluru, namun sebelum itu ia harus minta izin dulu kepada tentara yang ada di belakangnya. Tentara kedua ini harus meminta izin kepada tentara di belakangnya dahulu sebelum memberikan izin kepada tentara pertama. Demikian terus sampai tidak ada batasnya. Pertanyaannya, apakah tentara pertama akan menembakkan perlurunya? Jawabannya tidak karena ia tidak akan pernah sampai pada tentara yang bisa mengizinkannya untuk menembakan peluru tersebut. Namun, jika rantai itu berakhir pada seorang tentara yang tidak memiliki siapa pun di atasnya maka pasti tentara pertama akan mendapatkan izin untuk menembakkan pelurunya. Tanpa tentara tertinggi tersebut, peluru tidak akan ditembakkan berapa banyak pun jumlah tentara di atas tentara pertama. Mereka seperti buku yang diletakkan bersebelahan, betapapun banyaknya tidak mengartikan apapun walaupun sampai pada titik tanpa batas kecuali jika diletakkan sebelumnya angka satu dan seterusnya.”

Pertanyaan Dari Mana Allah Berasal, Berapa Umurnya? Siapa Yang Ada Sebelum Allah?

“Sayangku, ketika kamu mengetahui bahwa Allah tidak diciptakan, maka Allah pun tidak diperanakkan dan tidak beranak. Allah tidak memiliki permulaan dan akhir. Oleh sebab itu Allah tidak memiliki umur seperti kita, manusia. Allah zat yang maha agung, maha kaya, maha besar, dan memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Dia sang maha perkasa dan maha penyayang yang memilki nama-nama yang baik (asmaaul husna) dan sifat yang tinggi. Allah memiliki sifat yang sempurna dan tidak memiliki kekurangan. Allah subhanahu wa taala yang menciptakan alam seperti Dia menciptakan segala makhluk yang ada.

Ini seperti pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?”. Ini adalah pertanyaan yang keliru. Dialah Al-Awwal, tidak ada apapun sebelum Allah. Dia pula Al-Akhir tidak ada sesuatu pun setelah Allah. Allah berfirman : : “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. Al-Hadid : 3). Zaman seperti tempat. Keduanya tidak membatasi Allah. Waktu ialah makhluk seperti makhluk-makhluk Allah yang lain. Tidaklah mungkin bagi makhluk untuk meliputi penciptannya. Allah memiliki semua sifat yang sempurna dan indah. Perlu untuk dipertegas nasihat Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Setan senantiasa mendatangi salah seorang dari kalian seraya berkata; siapa yang menciptakan ini dan siapa yang menciptakan itu hingga akhirnya dia bertanya ‘Lantas siapa yang menciptakan Tuhanmu?. Bila sudah sampai seperti itu maka hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dan menghentikannya”.(HR. Al-Bukhari no. 3276). Dengan meminta anak berlindung kepada Allah kita mengarahkan pikiran anak kepada hal lain secara tidak langsung agar ia tidak terus terseret oleh rentetan pertanyaan tersebut. Ini juga sebagai jawaban penting dalam hal ini. Pengalihan pikiran dari pertanyaan-pertanyaaan itu bukan karena tidak ada jawabannya, namun untuk menutup celah was-was setan.

Pertanyaan Siapa Yang Ada Sebelum Allah?

Kita harus berusaha menjauhkan pikiran anak dari memikirkan zat Allah dan mengarahkan pikarannya pada hal-hal yang memberikan manfaat dan faidah. Disini kita harus memahamkan anak bahwa membedakan anatara laki dan wanita adalah konsekuaensi dari pembedaan antara jenis makhluk hidup. Ini adalah karunia Allah yang diberikan_nya kepada makhluk-Nya/ Allah berfirman : “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.” (QS. An-Najm : 45).

Allah berada di atas pembedaan (pengklasifikasian) tersebut. Bahkan sebagian makhluk tidak bisa masuk dalam pembedaan ini seperti malaikat misalnya. Bahkan langit, awan, udara dan air tidak bisa disifatkan sebagai laki-laki atau perempuan. Jika ada maklhuk yang tidak bisa dibedakan dari sisi ini, maka Allah lebih utama. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Q.S Al-Syura :11).

Pertanyaan Kenapa Kita Beriman Pada Keberadaan Allah? Apa Yang Menunjukkan Bahwa Allah Itu Ada?

Iman kepada Allah adalah fitrah manusia yang tidak bisa diingkari seorangpun. Hal yang menunjukkan keberadaan Allah banyak sekali. Manusia menyingkap satu demi satu hal yang menunjukkan keberadaan Allah. Masing-masing sesuai dengan bidang yang ia geluti. Fitrah manusia menunjukkan keberadaan Allah. Allah berfirman : : “…(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. Ar-Rum : 30).

Setiap kita mendapati di dalam dirinya kekuatan yang membisikinya akan keagungan Allah dan kekuatan-Nya serta pemeliharaan-Nya. Ilmu pengetahuan juga menyingkap dan mempertegas keberadaan aturan yang sangat detil dalam alam semesta ini. Aturan detil tersebut haruslah ada yang menciptakannya dan mengaturnya. Bisa jadi aturan itu ada dengan sendirinya secara kebetulan tanpa ada sebab yang mendorongnya. Jika seperti itu maka tidak ada satu pun yang tahu bagaimana alam semesta ini terbentuk. Ini adalah satu kemungkinan. Kemungkinan yang lain, alam semesta ini membentuk dirinya sendiri dan mengaturnya sendiri. Kemungkinan ketiga, ada yang menciptakan alam semesta ini. Ketika kita perhatikan tiga kemungkinan di atas maka kita dapati bahwa kemungkinan pertama dan kedua itu mustahil. Jika kemungkinan pertama dan kedua tidak benar maka kemungkinan ketiga adalah yang benar dan jelas. Bahwa ada pencipta yang menciptkan alam semesta ini. Dia adalah Allah. Inilah yang disebutkan dalam Alquran Al-Karim pada firman-Nya : : “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)”. (QS. At-Thur : 35-36).
Di antara hal yang menunjukkan keberadaan Allah adalah jawaban doadoa, juga kesempurnaan penciptaan langit dan bumi. Allah berfirman : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 190).
Demikian juga kesempurnaan penciptaan manusia. Allah berfirman : “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat : 21). Demikian pula pada penciptaan bintang-bintang, gunung-gunung, hewan-hewan dan lain sebagainya. Semua itu menunjukkan kehebatan sang pencipta. Hal-hal yang menunjukkan keberadaan Allah tersebar pada langit, diri kita, buah-buahan dan segala yang menunjukkan keberadaan sang pencipta yang maha esa. Keberadaan makhluk-makhluk tersebut pasti memiliki tujuan. Tujuannya ialah ibadah (penghambaan) kepada Allah semata tiada sekutu baginya. Untuk menjelaskan ini, kita bisa menceritakan kisah Abu Hanifah ketika ada kaum yang memintanya menunjukkan adanya tauhid rububiyah.
Abu Hanifah berkata kepada mereka, “Sebelum kita mendiskusikan masalah ini, tolong jelaskan kepadaku bagaimana bisa ada sebuah kapal yang penuh dengan makanan dan barang-barang. Kapal itu berlayar dengan sendirinya dan berlabuh dengan sendirinya. Kapal itu membongkar muatan dengan sendirinya dan kembali sendiri tanpa ada awak kapal yang mengaturnya?”
Kaum tersebut menjawab, “Itu mustahil. Selamanya tidak akan mungkin.”
Ia menjawab, “Jika hal itu mustahil terjadi pada suatu kapal, maka bagaimana itu bisa terjadi pada alam ini?! Tidak mungkin alam semseta yang sempurna ini ada tanpa pencipta yang maha kuasa dan mengetahui.”
Kita bisa katakan kepada anak, “Ketika kamu merasakan perih di perutmu, bukankah kamu tahu bahwa kamu sedang lapar? Kamu akan langsung mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar itu, bukan? Ketika kami haus, bukankah kamu akan mencari minuman yang bisa menghilangkan rasa haus itu? Ketika kami mencium aroma yang nyaman, bukan kamu juga merasa nyaman? Demikian pula sebaliknya ketika kamu mencium aroma yang tidak nyaman, bukan? Ketika kamu melihat bunga-bunga, langit, dan pemandangann yang indah di sekitar kita bukankan kamu akan merasa senang dan bahagia?”
“Seperti itulah wahai sayangku, ketika kita merasakan kebutuhan kita kepada sang maha agung yang mana kita senantiasa kembali kepadanya ketika kita membutuhkan agar kita selalu marasa tenang dan aman. Ketika kita merasa sempit dan sedih, kita akan langsung kembali dan mengadu kepada Allah. Jika kita meraasa bahagia kita memuji Allah atas kebahagiaan tersebut.”

Pertanyaan Apakah Allah Melihat, Mendengar, Dan Berbicara Seperti Kita?

Allah berbicara dan mendengar serta melihat. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya…” (QS. Al-Mujadilah : 1)
Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha : 46)
“Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS. Huud : 112).

Akan tetapi, tidak seperti kita berbicara, mendengar, dan melihat. Itu karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Dia mendengarkan suara-suara sekecil apapun. Dia melihat segala sesuatu sejauh apapun. Allah mendengar segala sesuatu dan melihat segala hal. Namun pendengaran dan pengelhiatan-Nya tidak seperti pendengaran dan penglihatan makhluk yang serba kurang dan lemah. Allah berfimran : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Al-Syura : 11)
Sebaiknya kita menggaitkan pembahasan ini dengan perilaku secara langsung. Kita bisa katakan, “Apakah layak bagi kita membicarakan hal yang tidak diridhai oleh Allah saat kita tahu bahwa Allah maha melihat dan mendengar? Apakah layak Dia melihat kita pada keadaan yang tidak Dia terima?!”

Pertanyaan Apakah Allah Tidak Lapar Dan Haus?

Allah memilki sifat yang sempurna dan dan tidak ada kekurangan sedikitpun. Lapar dan haus adalah bentuk kelemahan. Kelemahan tidak pantas disandarkan kepada Allah. Oleh sebab itu, maka Allah tidak membutuhkan makan dan minum karena Allah maha pencipta segala sesuatu yang tidak membutuhkan apa pun. Kalau Allah membutuhkan sesuatu maka Allah tidak sah dianggap sebagai tuhan. Allah adalah As-Shamad yang tidak makan dan tidak membutuhkan makan dan minum. Dia sang maha kaya dan tidak membutuhkan itu semua. Dia juga tempat berharap segala makhluk-Nya. Dia memberi rezeki, memberi makan dan memenuhi semua kebutuhan mereka.

Bisa katakan kepada anak, “Tidak bisa dibandingkan antara makhluk dengan sang khalik. Tidak semua benda yang kita ciptakan dan temukan harus memilki sifat seperti kita, bukankah demikian? Allah tidak lapar dan haus”. Kita bisa bertanya, “Siapa yang menciptakan sepeda?” Dia akan menjawab bahwa dia yang menciptakan sepeda. Ok. “Anakku, mari kita membayangkan bersama ada sepeda yang bisa bicara dan bertanya kepada penciptanya, “Apa yang kamu makan?”…”Apa yang kamu minum?” Kira-kira, apa yang akan kamu katakan padanya?” Anak akan menjawab, “Aku katakan, “Itu bukan urusanmu..!” Apa faidahnya kalau kamu mnegetahuinya?” Apa akan menambah kegunaan utamamu? Fungsi utamamu adalah melaju dengan kencang tanpa macet sedikitpun.” OK… Jawablah, “Demikian juga kita wahai anakku… Allah menciptakaan kita untuk kepentingan tertentu. Allah berfimran : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)
“Pertanyaan semacam ini tidak akan memberi manfaat kepada kita dan tidak akan membantu kita untuk menuntaskan kepentingan utama kita ketika kita diciptakan. Bahkan sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan semacam ini bisa memalingkan kita darinya. Akan tetapi, kapankah sepeda mendatangi kita dan bertanya kepada kita?” “Sepeda akan datang ketika ia rusak. Ia akan datang kepada kita yang menciptakannya untuk memperbaiki kerusakan itu, ya kan? Begitu pula kita kembali kepada Allah dengan berdoa ketika kita dapati diri kita mulai malas beribadah atau ketika kita ditimpa suatu keburukan.”

Pertanyaan Sebesar Apa Kekuatan Allah?

Jika kita berbicara tentang kekuatan atau kemampuan terbatas maka kita sedang membincangkan tentang suatu sifat yang ada kekurangannya karena muara kekuatan adalah kelemahan. Kelemahan tidak ada pada Allah. Jadi, kekuatan Allah itu mutlak. Tidak terbatas. Tidak bisa dilemahkan oleh apapun juga. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.Al-Baqarah : 106)

Jika Allah berkehendak maka ia berkata, “Jadilah!” maka jadilah yang Dia inginkan. Allah berkuasa atas segala sesuatu karena Allah menciptakan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang melemahkan-Nya. Kekuasaan dan kemampuan yang terbatas ada pada makhluk. Oleh sebab itu Allah satu-satunya yang berhak untuk disembah dan diibadahi serta dimintai karena Allah semata yang maha kuasa menjawab segala kebutuhan makhluk, memberi rezeki dan merealisasikan segala keinginan serta mengurusi segala keperluan hamba-Nya.

Pertanyaan Allah Dimana? Sebesar Apa Ukurannya?

Setelah anak memahami pada usia dini bahwa Allah yang menciptakannya dan Allah sangat mencintainya serta Allah memberikannya nikmat yang banyak, kita bisa menjelaskan kepadanya bahwa Allah berada di langit. Allah berfirman : : “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al-Mulk : 16)
Allah berada di langit dan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Allah berfirman: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…” (QS. AlHadid : 4)

Allah Dimana? Sebesar Apa Ukurannya?

Kita tidak sepantasnya mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat karena itu berarti bahwa Allah ada pada segala sesuatu. Itu tidak benar. Kita berusaha untuk mengikuti apa yang disebutkan di dalam sunnah Nabi.
Nabi pernah bertanya kepada seoang budak wanita, “Allah dimana?” Ia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya, “Siapa aku?” Ia menjawab, “Engkau rasulullah.” Nabi bersabda, “Merdekakanlah dia karea dia wanita beriman.”(HR. Muslim no. 537)

Walupun Allah berada di langit, Allah bisa melihat kita dan mendengarkan kita di mana saja. Hendaknya pula terus menerus ditekankan kepada anak bahwa Allah selalu melihatnya. Hal itu akan menumbuhkan kesadaran diri pada anak yang akan menjadikan ia mawas diri. Allah juga tidak dapat dibandingkan dengan apapun dari makhluk-Nya.
Allah lebih besar dari segala sesuatu. Jika ciptaan-Nya begitu besar dan agung maka pencipta-Nya lebih besar dan agung. Dialah yang meluluh-lantahkan gunung-gunung, menggerakkan samudera, memerintahkan kepada air untuk meresap ke dalam bumi. Tiada sesuatu pun terjadi di alam semesta ini kecuali atas perintah dan kehendak-Nya. Sang pencipta tidak butuh dengan makhluk. Langit adalah satu makhluk dari makhluk-Nya. Keberadaan Allah tidak bergantung dengan langit. Allah tidak membutuhkannya karena Allah maha kaya tidak membutuhkan apapun

Pertanyaan Bagaimana Allah Bisa Melihat Kita Sedangkan Kita Tidak Dapat Melihat Allah?

Indera pengelihatan yang diberikan oleh Allah di dunia ini sangatlah lemah dan tidak bisa kita gunakan untuk melihat banyak hal dengannya. Oleh sebab itu, manusia menggunakan kaca pembesar dan mikroskop. Jika manusia tidak mampu melihat sesuatu yang juga berupa makhluk ciptaan Allah maka sudah pasti dia lebih tidak mampu melihat Allah. Kemampuan manusia di dunia ini tidak menyokongnya untuk melihat Allah. Kita tidak mungkin melihat Allah namun kita beriman kepadaNya. Kita juga beriman bahwa Allah maha penyayang dan menyangi kita. Dia maha kuasa dan kuat atas segala sesuatu. Dia maha mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui bahwa sekarang kita membahas tentang-Nya. Allah berada di tempat yang jauh lebih tinggi dari kita. Oleh sebab itu, Dia melihat kita semua pada satu waktu. Seperti orang yang naik ke puncak bangunan, ia bisa melihat semua orang yang ada di jalan sedangkan mereka tidak melihatnya. Allah melihat kita sedang kita tidak melihat-Nya. Banyak hal yang tidak dapat kita lihat namun itu ada.

Bagaimana Allah Bisa Melihat Kita Sedangkan Kita Tidak Dapat Melihat Allah?

Hendaknya kita sebutkan pula kepada anak bahwa mata kita tidak bisa melihat segala hal. Kita tidak bisa melihat suara padahal kita mendengarkannya. Kita tidak bisa melihat udara padahal kita bisa merasakannya. Mata kita juga tidak bisa melihat Allah di dunia ini namun di surga insyaallah, mata kita akan menjadi lebih baik dan dapat memandang Allah. Oleh sebab itu, Allah berfirman : “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 103).

Pertanyaan Bagaimana Allah Melihat Semua Manusia Sedang Mereka Banyak Sekali?

Mari kita jawab pertanyaan ini secara praktis. Mari kita ajak anak berdiri di pinggir jalan dan kita katakan kepadanya, “Ayo, lihatlah orang-orang yang ada di jalan. Beri tahu kami berapa orang yang kamu lihat! Ayah dan ibu akan menghitung juga.” Setelah itu kita ajak anak untuk naik ke lantai dua rumah kita. Biarkan anak memperhatikan orang-orang yang ada di jalan dan menghitungnya. Kemudian kita naik lagi ke lantai yang lebih tinggi, lalu biarkan anak menghitung berapa orang yang ia lihat. Jika bisa, sediakan juga teropong agar kita bisa membuat ia melihat orang-orang dengan lebih baik dan menghitungnya lebih teliti. Dengan cara ini kita menjelaskan kepadanya bahwa kita tidak bisa mengukur banyak hal dengan ukuran kita sebagai manusia yang terbatas. Hendaknya kita jelaskan kepada anak bahwa kemampuan Allah lebih besar dari kemapuan setiap makhluk-Nya. Hendaknya kita tanamkan pada benaknya selalu bahwa “Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 106).

Bagaimana Allah Melihat Semua Manusia Sedang Mereka Banyak Sekali?

Kita juga bisa bertanya kepada anak, “Apakah semut dapat melihat kita secara detil dan sempurna? Atau semut hanya bisa melihat bayangan kita?”
Anak akan menjawab bahwa semut hanya bisa melihat bagian yang sangat kecil dari jari kaki kita. Bagi semut jari kaki kita sudah seperti gunung yang begitu besar.
Kita tanyakan “Apakah mungkin semut bertanya kepada kita, “Bagaimana cara kalian melihat kami pada satu waktu?” Jika semut itu bertanya kepadamu, pasti kamu akan menjawab bahwa itu hal yang sudah pasti. Kemampuanmu melihat banyak semut dalam satu waktu sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan kepadamu. Adapun semut maka kemapuannya terbatas. Mungkin saja ada beberapa rumah semut dalam satu ruangan. Kamu bisa melihat semuanya pada satu waktu. Namun semut sendiri kemampuannya terbatas, ia tidak bisa melihat apa yang kamu lihat. Ketika kita sepakat bahwa Allah tidak semisal dengan apapun dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu, maka tidak tepat menanyakan kemampuan Allah dengan ukuran kemampuan kita yang terbatas. Bagi Allah itu hal yang sederhana. Kemampuan dan kekuasaan Allah lebih besar dari semua makhluk-Nya karena “Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 106)

Pertanyaan Apakah Allah Bisa Melihat Kita Saat Gelap?
Bagaimana Allah Melihat Kita Saat Kita Sedang Berada Di Dalam Rumah Sedang Jendela Dan Pintu Tertutup?

Hendaknya kita perlihatkan kepada anak bagaimana sinar X-Ray bekerja. Manusia yang diciptakan oleh Allah bisa melihat tulang yang ditutupi oleh daging dengan baik melalui X-Ray. Bagaimana dengan Rabb kita yang menciptakan manusia? Allah subhanahu wa taala sudah pasti bisa melihat kita saat kita berada di dalam rumah dan semua pintu tertutup. Tidak ada yang semisal dengan Allah. Allah tidak sama dengan manusia yang tertutupi pandangannya oleh bangunan-bangunan. Tidak mungkin sang pencipta seperti ciptaan-Nya. Itu karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebaiknya jawaban dihubungkan dengan perilaku anak. Kita hendaknya menguatkan keyakinan bahwa anak senantiasa diawasi oleh Allah dan menguatkan kekuatan rohani yang ada pada diri anak.

Apakah Allah Bisa Melihat Kita Saat Gelap? Bagaimana Allah Melihat Kita Saat Kita Sedang Berada Di Dalam Rumah Sedang Jendela Dan Pintu Tertutup?

Hendaknya anak diajarkan bahwasanya Allah subhanahu wa taala memiliki seluruh sifat-sifat yang sempurna dan indah. Hendaknya anak juga mengetahui bahwa kekuasaan Allah subhanahu wa taala tidak memiliki batas maka Allah adalah zat yang maha kuasa. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 106)

Kekuasaannya senantiasa Agung tidak ada yang dapat melemahkan-Nya entah itu di bumi ataupun di langit. Tidak mungkin bagi kita untuk mengukur kekuasaan dan kemampuan Allah dengan kemampuan makhluk-Nya. Sebesar apapun kemampuan makhluk tersebut, Allah lebih agung dan lebih besar darinya. Untuk menjelaskan hal ini, kita bisa mencontohkan dengan rekaman kamera. Kamera mampu merekam benda kecil dan besar yang ada di dalam jam jarak tangkapnya. Allah lebih agung dan lebih berkuasa dan Allah subhanahu wa taala memiliki perumpamaan yang sangat tinggi. Allah bisa mengawasi seluruh manusia pada satu waktu karena kemampuannya dan kekuasaannya yang tidak terbatas. Allah subhanahu wa taala mengetahui dan ilmunya mencakup segala sesuatu.

Kita juga bisa membuat permisalan untuk menjelaskan hal ini. kita katakan, “Taruhlah ada sebuah perusahaan besar yang ingin mengawasi semua pegawai-pegawainya. Perusahaan ini meletakkan kamera-kamera tersembunyi untuk mengawasi tanpa sepengetahuan pegawai-pegawai tersebut. Dengan kamera itu pemilik perusahaan dapat mengawasi mereka sedang mereka tidak mengetahuinya melalui perantaraan layar-layar yang menampilkan apa yang terjadi pada setiap bagian perusahaan pada satu waktu. Apabila hamba yang lemah yang diciptakan oleh Allah mampu untuk melakukan hal tersebut, mengapa yang menciptakan manusia tidak mampu untuk melihat hamba-hambanya pada satu waktu?

Pertanyaan Mengapa Manusia Mati Sementara Allah Tidak Mati?

Kematian adalah bagian dari pada takdir Allah yang telah ditetapkan pada makhluk-makhluknya Allah subhanahu wa taala berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. AL-Ankabut : 57)
Oleh sebab itu kematian manusia adalah awal permulaan kehidupannya di akhirat dan kehidupan di akhirat adalah yang lebih penting.

Mengapa Manusia Mati Sementara Allah Tidak Mati?

Kematian adalah fenomena kelemahan yang terikat dengan kehidupan seluruh makhluk. Kelemahan tidak ada pada Allah karena Allah tidak diciptakan maka Allah tidak akan mati. Manusia diciptakan dan akan mati. Kehidupan Allah tidak seperti kehidupan kita. Kehidupan kita berakhir dengan kematian. Setiap makhluk akan mati dan tiada yang tersisa kecuali Allah. Kehidupan Allah yang sempurna berkonsekuensi adanya sifat-sifat sempurna pada zat-Nya, di antaranya ialah sifat Al-Hayy yang maha hidup dan tidak mati.

Pertanyaan Apakah Allah Mencintaiku Seperti Aku Mencintainya?

 

 

Back to top button